Minggu, 25 Desember 2011

Karya Tulis Ujian Akhir Semester - Bahasa Indonesia

Torehan Luka ‘98

Februari 2010, suara dentuman perkusi terdengar mengiringi rombongan barongsai yang meramaikan acara tahunan itu. Cahaya warna warni yang tak sengaja menyorot ke arahku membuat mata sipit ini semakin sipit saja. Ya, tahun ini seperti biasa aku, istriku, bersama kedua putri kembarku, dan papa merayakan Chinesse New Year bersama. Bagi keluarga kami, perayaan-perayaan kebudayaan Cina sangatlah penting untuk dirayakan. Kata papa sih untuk menghormati budaya para leluhur. Tak seperti biasa, tahun ini papa ingin menghabiskan malam perayaan Chinesse New Year di Surabaya saja. Aku menyanggupinya, karena pikirku perjalanan yang cukup lama juga tidak baik bagi orang paruh baya. Dan malam itu aku sekeluarga berada di Kawasan G-Walk, Citraland, Surabaya Barat.

Melihat ada sederetan kios bermain, kedua anakku meminta untuk ditemani bermain. Namun, karena kondisi badanku saat itu tidak fit aku bilang pada anakku untuk pergi bersama mamanya saja. Sedangkan aku menemani papa duduk-duduk ngobrol dengannya. “Papa pingin yang anget-anget Do”, katanya padaku. Tak jauh di sana memang ada mobil penjual sup kacang merah, bakcang, dan makanan berbau chinesse tradisional. Aku ajak papa makan di sana.

“Kok bisa ya Do sekarang mereka juga turut berjualan produk bangsa kita?”, pertanyaan itu ia lontarkan bukan dengan maksud ingin mendapatkan jawaban dariku. Aku tau dari nada suaranya, ucapannya itu hanya sebenarnya hanya suatu pernyataan yang menyindir. Meskipun begitu,  toh aku tetap menjawab pertanyaannya. “Sekarang ini sudah makin banyak masyarakat pribumi yang terbuka mata hatinya. Mereka tahu bahwa kedatangan bangsa kita bukan sebagai perusak di negeri ini. Mereka tahu bahwa sebenarnya dengan kedatangan kita juga turut membuka peluang bisnis yang besar untuk memajukan negara ini. Dan..” “Betul Do! Betul! Papa setuju sekali denganmu. Sekarang mereka tahu bahwa bangsa Cina lebih hebat dari mereka. Dan karena mereka tidak tahu bagaimana menyaingi kita, sekarang mereka memakai cara-cara berdagang kita. Sungguh tak tahu diri. Di belakang mereka hina-hina kita, namun di depan mereka dengan senyum palsu berpura-pura berdamai dengan kita, supaya dagangan mereka pada laku habis dibeli orang Cina!”, omel  papa yang penuh kebencian memotong kata-kataku tadi. Karena aku tidak cukup banyak tenaga untuk berdiskusi dengannya, aku cuma hanya bisa diam mendengarkan kekesalan papa terhadap kaum pribumi. Dan sesekali aku hanya memberikan anggukan tanda aku merespon kata-katanya.

Pagi itu, papa berangkat sendiri ke kantor. Istriku meminta papa untuk memberikan aku ijin cuti sehari karena semalam suhu badanku naik jadi 37,5 derajat. Pagi itu aku makan sarapan buatan istriku, sendiri. Dua roti dengan masing-masing isi selembar daging ham lengkap dengan telur, selada, dan bumbu pelengkapanya sudah dalam proses tercerna dalam perutku. Istirku tahu bagaimana memanjakan lidah suaminya. Hari ini aku cukup merepotkannya. Biasanya setiap pagi, aku yang mengantar anak-anak ke sekolah, namun pagi itu Adeline, yang mengantar. Setelah itu ia ia harus langsung pergi bekerja. Istriku ini berprofesi sebagai guru les musik di suatu lembaga musik yang cukup ternama di sini. Dia sosok yang cakap dalam segala hal, menurutku. Dia teman dan pasangan yang baik buatku. Dan menutku dia juga sosok ibu yang baik bagi anak-anakku serta menantu yang baik bagi papa. Papa pernah bilang begitu padaku saatku melamarnya dulu.
Aku merasa hidupku telah sempurna dengan kehadiran Adeline dalam hidupku. Namun entah mengapa aku teringat perbincanganku dengan papa semalam. Dan omongannya membuatku teringat pula dengan kejadian mengenaskan yang sebenarnya tidak mau aku ingat lagi. Jika aku mampu, aku ingin sekali membuat otakku bekerja untuk menghapus memoriku di masa kelam itu saja. Tak bisa aku hindari, satu demi satu memori itu kembali terlintas di pikiranku.

Aku ingat saat itu aku bersama papa, mama dan saudara kembar perempuanku pergi ke Jakarta untuk menemani papa berdinas di sana. Saat itu aku dan Dora baru saja menyelesaikan studi kami di bangku SMP. Aku ingat betul bulan itu. Mei 1998. Papa adalah salah satu orang penting di perusahaannya. Perusahaannya cukup memiliki nama di Indonesia, dan saat itu papa dan mama tidak terpikir apapun tentang apa yang akan terjadi di Jakarta saat itu pada kami. Karena merasa sudah berada di zona nyaman itulah kami sekeluarga tetap menghabiskan waktu di mall-mall di saat banyak orang-orang Tionghoa lain mengungsi ke luar negeri karena takut akan terjadi kerusuhan.

Tak diduga terjadilah betul hari itu. Kerusuhan terjadi. Mall-mall dibakar habis, toko-toko orang Tionghoa habis dijarah, rumah-rumah mereka habis dibakar. Dan hal yang paling menakutkanpun terjadi, aku saat itu yang masih berbadan kecil tidak bisa berbuat apa-apa saat mama dan Dora diperkosa di hadapanku dan papa di kamar hotel. Dengan mata kepalaku sendiri aku melihat papa dipukuli dan dilukai dengan pisau di lengan kanannya. Darah segar mengalir di tangannya. Badan papa penuh dengan memar dan luka-luka di sekujur tubuhnya. Aku tahu karena kami saat itu semua ditelanjangi. Kami dipermalukan. Aku juga mendapat pukulan yang cukup keras di kepala. Pukulan itu membuatku cukup setengah teler tak berdaya dan hanya bisa melihat dengan mata lebam bekas hantaman salah satu laki-laki pribumi. Kelanjutan cerita detilnya aku tak tau karena tak lama setelah itu aku jatuh pingsan.

Saat bangun, aku sudah berada di kamar rumah sakit ditemani papa yang dengan penuh balutan perban di badannya. Melihatku bangun, papa langsung mendekapku dengan erat dan bilang bahwa ia sangat khawatir. Ia takut kehilangan aku juga. Ia juga berkali-kali mengatakan bahwa ia mencintaiku. Tulang-tulangku terasa mau patah saat lengannya yang kuat itu merangkulku. Kelihatannya luka yang aku dapat saat kejadian itu tak hanya lebam di mata dan memar di kepala saja. Aku tak tahu dan tak mau mengingatnya. Tak lama setelah itu, papa membawa berita duka dipenuhi dendam, di mana papa berkata bahwa mama dan Dora tewas di malam kelabu itu. Papa juga bilang jika ternyata aku sudah pingsan selama 2 minggu. Aku cuma bisa tersenyum pada papa dan mengatakan aku baik-baik saja. Namun dalam hati, sama seperti papa aku menaruh dendam dan luka yang cukup mendalam terhadap kaum pribumi khususnya kelima pria bengis yang tidak aku kenal itu. Oh lebih tepat mereka disebut binatang saja. Bagiku mereka sungguh tak lebih dari sekedar binatang yang memang tak memiliki moral. Binatang-binatang itu merenggut sosok wanita dalam keluarga kecil kami.

Mengingat hal-hal menyakitkan itu membuatku cukup lelah. Bagiku sekarang sudah berbeda. Aku sadar kala itu mungkin ada oknum-oknum tertentu yang memiliki kuasa benci pada orang-orang Tionghoa. Termasuk kami orang tionghoa turunan. Di kala itu, bangsa kami sangatlah pintar berdagang dan hal itu cukup membuat beberapa orang pribumi ketakutan sektor ekonominya akan dijajah oleh kami para pendatang. Padahal kedatangan Bangsa Cina di masa itu sungguh hanya dengan niatan berdagang. Dan mungkin rakyat-rakyat yang kurang mampu saat itu dipergunakan oleh pemerintah untuk menyingkirkan kami dari ibu Pertiwi ini.
Aku pernah baca, saat orde baru banyak sekali orang-orang Tionghoa yang turut berjasa dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sebut saja Liem Soe Liong yang dekat dengan Soekarno, yang pernah menyembunyikan mertuanya pada saat itu yang merupakan buronan. Ada juga orang Tionghoa yang turut memerintah di Yogyakarta. Mataku semakin berat, pikiranku semakin tak bisa diajak kompromi, kepalaku pusing setengah mati mengingat-ingat sejarah. Yang penting bagiku sekarang, semua sudah berbeda. Masyarakat pribumi sudah makin banyak yang mengakui keberadaan kami sebagai WNI. Aku pribadi sangat bangga menjadi WNI. Dan aku senang terlahir menjadi turunan Tionghoa. Namun siapa yang sangka? Kelahiran yang tidak bisa kita request itu dinilai sebagai suatu kesialan bagi beberapa orang Tionghoa turunan yang tinggal di Indonesia yang turut menjadi korban Mei ’98. Tak sadar sudah berjelajah pikiran ke mana saja, akupun tertidur.

“Do, bangun Do, papa mau ngomong penting.”, ucap papa dengan nada setengah berteriak. Aku bangun dalam keadaan setengah kacau. Badanku terasa mendidih sampai ke ubun-ubun. Pipiku merah saat kulihat ke kaca sepintas. Lagi-lagi aku dikejutkan oleh perkataan papa . Papa bilang kalau papa melihat salah satu sosok pelaku pemerkosaan mama dan Dora! Astaga! Sungguh aku tak menyangka, serentetan memori yang tak sengaja teringat kembali kini muncul di hadapan kami, aku dan papa. Papa dengan sedikit bingung dan tergesa-gesa mengucapkan kalimat-kalimat dalam bahasa mandarin yang aku tak cukup mengerti saat itu. Kusuruh papa duduk dahulu, istrikupun turut duduk membawa tiga cangkir teh untuk kami bertiga. Aku minta papa mengulangi perkataanya dengan Bahasa Indonesia dengan lebih tenang. Intinya, papa bilang jika papa baru saja menemukan foto sosok salah satu pelaku pemerkosa malam itu di rumah karyawan kepercayaan perusaahaan kami. Pelaku itu yang turut melukai lengan papa yang meninggalkan bekas yang dalam. Jadi jelas, papa tidak akan mungkin lupa dengan wajah si pelaku. Tanpa ragu, detik itu juga, aku mengajak papa pergi bersama ke rumah Antok, karyawan kami. Aku bertekad akan menelusuri  kenangan kelam yang terus saja menghantui kami. Aku ingin merdeka dari tekanan batin itu.

Sekian lama ...

Yak!

Akhirnya benar-benar kubuka diary canggihku ini..

Sekian lama berkutat dengan dunia perkuliahan dan kehidupan sehari-hari yang cukup menyibukkan,
tibalah aku di liburan akhir semester 3.

Entah harus senang atau sedih.
Awalnya, kupikir liburan kali ini aku bakalan cukup sibuk dengan sederetan rencana yang sudah aku persiapkan untuk mengusir kebosanan yang bakal aku temui selama liburan.
Ternyata, lagi2 perhitunganku meleset!

Tahun ini, awan kelabu tetap saja menyelimuti keluargaku.

Korbannya kali ini adalah aku.

Ya, aku kehilangan "teman" galauku saat menghadiri acara natal di gerejaku.
Sekali lagi, entah aku harus senang atau sedih menghadapinya.

Hmmm aku kira cukup sekian dulu cerita sedihku.
Sebentar lagi, aku ingin membagikan salah satu karya tulisku yang aku buat saat ujian akhir semester untuk mata kuliah Bahasa Indonesia.
Mungkin masih banyak salah ketik maupun salah kata, tapi semoga tulisanku menarik :)

Selamat Natal kawan!
Semoga sukacita dan kasih Natal ada dalam dirimu sekalian :D