Senin, 07 Oktober 2013

Ibu Kota

Waktu aku nulis ini, benernya aku udah sekitar 6 minggu berada di sini.
Kayaknya ngga afdol masih make kata aku setelah tinggal *untuk sementara* Jakarta..
So, lets change it!

Here we gooo...
But .. Not in English juga kali...

Oke. Gue .. *ceileh guee* di sini untuk ngelaksanain internship wajib gue selama 3 bulan.
Gue di sini tinggal di rumah sodara bokap di daerah Menteng, Jakarta Selatan.
Cukup banyak hal yang gue dapetin di sini.. *tapi plisss... gue ngga maling apa-apa di sini*


Pertama, ini adalah pengalaman pertama gue hidup jauh dari orang tua gue, selama hitungan bulan pula.. Gue belajar untuk lebih mandiri di sini. Mandi sendiri, makan sendiri *ya iya lah, masa mau dimandiin atau disuapin?? Tapi kayaknya lebih terkesan kalo gue jomblo abis ya daripada jauh dari orang tua*.
Apapun yang aku lakuin di sini bisa dibilang pengalaman yang cuma bisa aku rasain di Jakarta.
Naek angkutan umum.. Jalan malem-malem sendirian cuma buat ke kantor, karena kendaraan umum yang murah udah ngga ada, naek taxi pun mahal, padahal jarak rumah sama kantor gue deket banget! Kan sayang duit! Jakarta mamen! Semua serba mahal! Ajibbbbb.... --"


Kedua, asal lo tau, gue di sini lagi internship di salah satu stasiun TV yang berada di bawah naungan suatu PT yang baru berdiri selama kurang lebih 10 tahun terakhir ini sedang berkembang dengan sangat pesat.
Jadi kebanggan sendiri sih buat dapetin pengalaman bisa kerja di stasiun TV seterkenal ini! Tapi... Kalo diitung dari fasilitas yang gue dapetin sebagai anak magang di sini, hal ini udah buat gue ngasi nilai minus untuk perusahaan ini. Apa yang gue keluarin ngga sebanding dengan apa yang gue dapetin di sini.. Tuntutan kerja yang disertai minimnya penghargaan *baca:dana/modal/uang/fulus* yang diberikan pada karyawannya, tidak sebanding dengan apa yang harus mereka kerjakan. Sehingga, dampaknya.. Anak-anak magang di sini cukup mendapatkan pengalaman dan pembelajaran yang minim, karena minimnya waktu untuk bertanya dan belajar. Anak magang cuma bisa mengamati .. Tidak sepenuhnya bisa mencoba semua pekerjaan yang ada di lapangan... Gue rasa, harus ada metode khusus untuk menyambut anak-anak magang.. Yang bisa memberikan ilmu yang mampu membayar waktu, keringat, dan uang para anak magang. Untung aja pembimbing lapangan gue baik-baik di sini, jadi setidaknya itulah nilai plusnya..


Ketiga.. Jauh dari orang tua benernya ada enaknya.. Selain mandiri, gue belajar hidup bebas tapi tetap bertanggung jawab! Enaknya.. Gue ngga lagi harus dengerin omelan mereka waktu gue lagi di Surabaya. Meski gue benernya juga kadang kangen ada yang ngomelin. Tapi ngga kalo untuk tiap hari. --"
Gue belajar mengelola pengeluaran gue di sini.. Gue harus bertanggung jawab sama uang yang gue keluarin. Apalagi, gue masih belum bisa cari duit sendiri.. intinya, gue belajar untuk ngehargain uang. Mungkin kehidupan kerja bakal susah, tapi pasti bisa dikerjain kok. Kerjaan mungkin juga bisa aja lo dapet.. Gaji juga bisa aja gede..Tapi selama lo ngga bisa bersyukur dan ngontrol pengeluaran lo, uang yang lo punya bakalan kurang terus!


Keempat.. Jauh dari orang tua, tapi deket sama sohib-sohib gua..
Yup! Gue bersama 8 orang sohib aku emang mutusin bareng untuk intership di Jakarta. Meski kantor kami berpencar-pencar (otomatis tempat tinggal juga agak mencar), kami masih bisa luangin waktu kami waktu weekend.. Khusus buat gue, cuma waktu hari Minggu. Kenapa?? Benernya ini apes gue sih.. Pertama kali mutusin untuk internship di perusahaan dan program yang bersangkutan, gue udah sengaja nyari program yang buat hidup gue di Jakarta ga lebih berat dari badan gue... Gue sengaja nyari program tapping tayang setiap hari Sabtu dan Minggu.. Logikanya nih ya.... Kalo itu program tapping yang tayang hari Sabtu dan Minggu, jadi benernya lo harus kerja untuk mempersiapkan segala sesuatunya waktu weekdays kan??? ..... Like I got the 'jackpot', ternyata waktu gue masuk kerja.. Itu program ternyata udah ngalamin perubahan format! Dari tapping jadi live! Alhasil.. Gue harus masuk kerja hari Sabtu dan Minggu.. Terus liburnya kapan? Gue libur hari Senin dan Selasa, dua hari di mana sobib-sohib gue justru masuk kerja! dan waktu mereka libur, gue kerja di akhir pekan! Oke thats life... Sometimes unpredictable.. But, show must go on... Jadi biar gue ngga mati kesepian dan kuper di sini, gue sempet-sempetin waktu gue waktu weekend ngumpul sama mereka. Karena sama-sama pengalaman hidup lama di Jakarta sendiri, dan nyobain pengalaman kerja.. Kami jadi semakin sering bareng untuk sharing dan menguatkan satu sama lain. Banyak hal yang terjadi yang bisa membuat kelompok kami (Gapica) goyah *mungkin lain waktu gue bisa ceritain soal Gapica* Justru itulah yang bisa membuat kami semakin mengenal satu sama lain. Semakin giat mendoakan, mana yang benar-benar baik, bisa dipercaya, dan setia. Jelasnya, meski gue sering banget berubah-rubah mikir baik buruknya tentang temen-temen deket gue ini.. GUE SAYANG BANGET SAMA MEREKA! Mereka udah kayak keluarga kedua gue.. Family for life... Friends for life... Dua doa yang mungkin sering kami doakan dalam hati kami masing-masing.. Kami dijauhkan dari segala hal buruk dan hal jahat yang bisa saja terjadi pada masing-masing diri kami dan keluarga kami. Dan.. Pertemanan kami ini bisa semakin dalam dan awet sampai kami tidak lagi bisa seugal-ugalan ini dalam beraktivitas bersama-sama... O ya.. ada satu harapan kami.. Kami pinginnnn banget bisa jalan-jalan ke luar negeri bareng... BERSEPULUH!





21 my age

Yup!
Bak Vicky Prasetyo, lelaki yang sedang booming saat ini *boleh cari tau kalo ngga tau*, di umurku yang 21 tahun ini, semakin banyak saja yang menjadi beban pikiran. Baru aja aku nyelesaiin Kambing Jantan the movie, mungkin lebih tepat dikatakan akhirnya selesai. Aku mesti punya waktu dua kali untuk nyelesaiin film dengan durasi 01:53:00 tersebut.. *anjirrr, sibuk banget yah gue!*

Ngomong-ngomong soal sibuk, jujur.. aku sendiri juga ngga tau apa yang sebenernya aku sibukin. Sering banget aku ngerasa ngga punya waktu, tapi waktu dipikir-pikir tentang hal apa yang sudah aku lakuin sejauh ini?? Aku ngerasa aku belum berbuat apa-apa. Ditambah lagi, setelah aku nonton Kambing Jantan.. Ngeliat kisah seorang remaja yang sekarang sudah SUKSES! O mann...! Umur aku sama Kak Raditya Dika ngga jauh beda. Diapun awalnya juga adalah seorang mahasiswa biasa. Tapi lihat sekarang, siapa sih remaja Indonesia yang ngga tau tentang dia? Dikenal sebagai penulis, commedian, motivator, movie director, pemain film ... *meski yang dua terakhir adalah tayangannya pribadi*, itu hebat!

Ada beberapa Hikmah yang bisa aku petik dari hal ini..
Satu.. Kita ngga perlu jadi siapa-siapa untuk menjadi siapa-siapa..
Dua.. Kita ngga perlu bermimpi besar jika mimpi kecil saja ternyata adalah porsi yang pas untukmu! Lakukan saja apa yang kamu suka (hal kecil sekalipun, tapi bukan seperti ngupil), selama hal itu positif, hal itu justru akan menjadikan dirimu besar.. Tanpa harus bermimpi besar pada awalnya..
Tiga, ketika beranjak dewasa, kita tidak lagi memikirkan hal-hal sesaat yang terjadi di waktu ini. Tapi kita juga memikirkan masa depan dari pertimbangan masa lalu dan kini. Kita tidak lagi memikirkan apa yang akan kita pakai sekarang, apa yang kita makan sekarang, tapi kita sudah memikirkan apa yang akan kita pakai dan makan nanti! Mau jadi apa kita nanti?! Apa yang harus aku lakuin untuk ngehasilin uang, bahagiain diriku sendiri yang artinya sekaligus membahagiakan orang tua aku???
Lalu bisa berubah jadi kini, kini bisa berubah menjadi esok..
Dia bisa berubah, mereka bisa berubah, kalian bisa berubah, akupun bisa berubah.
Berubah menjadi baik, atau malah menjadi buruk.
Tidak semuanya terjadi karena pilihan kita.. KehendakNya pun juga mempengaruhi apa yang terjadi pada kita. Aku hanyalah seorang manusia yang tidak *mungkin masih belum* diketahui oleh siapa-siapa *okee. mungkin keluarga, temen, dan guru-guru aku tau*, tapi satu mimpiku.. Aku cuma ingin dikenal. Aku cuma ingin orang tahu siapa aku, siapa Chelsea Amanda Alim.

Rabu, 04 Juli 2012

Amazing-Pulorejo! *random*

4 Juli 2012


Ternyata udah lama banget yah aku ngga nulis di sini..
Mungkin karena 'sesuatu', passion menulis yang sempat aku gemari habis-habisan menghilang.

Sesungguhnya aku menulis ini juga karena dorongan hati setelah membaca blog 'maxsibolang.co.cc", tulisannya menggelitikku untuk kembali menulis.

Mungkin hari ini aku hanya ingin berbagi keseharianku yang rumit dan konyol layaknya orang tersesat :-P

Nahh.. Randomly..

Akhir perkuliahan kuawali dengan mengikuti kegiatan live in di Desa Pulorejo, di sana kami mahasiswa-mahasiswi Petra belajar untuk berbagi dengan sesama kami di sana.
Banyak yang bilang, melalui kegiatan live in, kita belajar tentang kehidupan. Namun, bagiku makna kehidupan sebenarnya bisa kita peroleh dari kehidupan kita sehar-hari, di kota sekalipun. Bisa atau tidaknya kita mendapatkan makna tersebut adsalah tergantung dari pribadi kita masing-masing dalam berperspektif. :)
Sebut saja di kota. Kehidupan di kota itu bisa kita maknai sebagai kehidupan yang kejam, yang damai, yang mendidik untuk mandiri, yang memanjakan seorang anak, semuanya itu lagi-lagi tergantung dari bagaimana tiap individu menilai pengalaman-pengalamannya.


Kehidupan kami sebagai tamu di Desa Sidobecik, menurutku sangat nyaman. Meski bangun pagi, kehidupan di desa terbilang jauh sangat santai apabila dibandingkan dengan kehidupan di kota yang memaksa kita untuk terus menerus beraktivitas demi memperoleh hasil yang diimpikan. Di kota kita dipacu untuk terus bermimpi dan mengejarnya. Namun jika melihat orang-orang di desa, mereka jauh lebih mampu bersyukur daripada kita orang kota, dan hal itu PATUT diancungi jempol! Apapun yang mereka lakukan, mereka tidak terpaku pada kerugian, namun justru mereka tetap mensyukuri keuntungan sekecil apapun yang diperoleh. Pokoknya, asal untung saja bagi mereka sudah cukup. Luar biasa kan?? ^^


Sepulangnya dari Pulorejo, aku harus kembali lagi dengan rutinitas yang ada. Bosan. Tapi dengan berbekal pengalaman 6 hari 5 malam di Desa Sidobecik, aku mencoba mensyukuri keadaaan apapun yang aku hadapi hari-hari ini. Aku harap setelah sukses nanti, aku bukan hanya membahagiakan keluargaku di sini, tapi juga 'keluarga'ku di sana, keluarga Bapak dan Ibu Sareh. Tunggu aku bu! :D


...................................................................................................................................................................



Cukup lama setelah perjalanan itu berakhir, kemarin tanggal 3 Juli 2012 aku dan kawan-kawan menyempatkan waktu luang bersama untuk menonton Amazing Spiderman!
Saat menonton itu muncul pertanyaan-pertanyaan yang cukup menggangguku hingga hari ini.
1. Kenapa nama cewe yang main itu Gwen Stacy?? Bukannya selama ini nama cewe Peter Parker itu Mary Jane???  :O
2. Kenapa spiderman ga berubah bentuk menjadi laba-laba layaknya profesor yang berubah bentuk menjadi mutan kadal ?? (ANEHH KANNN?????)


Di samping pertanyaan-pertanyaan konyol (hanya 2 itu saja yang teringat) tersebut, aku juga memetik pelajaran dari film tersebut..
1. Jangan pernah remehkan anak muda. Karena umur tidak menjamin pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan seseorang.
2. Jangan pernah mendendam. Karena kita sendiri belum tentu benar. Orang lain kita anggap jahat hanya karena mereka berbeda pendapat/pemikiran dari kita. Padahal, belum tentu pendapat/pemikiran kita sendiri itu baik dan benar adanya. :)


Last but not least!!!!
AMAZING SPIDERMAN!!!! Wajib deh dtonton!!! *iklan* (gile nih, mestinya dapet fee dari produsernya LOL)

Minggu, 25 Desember 2011

Karya Tulis Ujian Akhir Semester - Bahasa Indonesia

Torehan Luka ‘98

Februari 2010, suara dentuman perkusi terdengar mengiringi rombongan barongsai yang meramaikan acara tahunan itu. Cahaya warna warni yang tak sengaja menyorot ke arahku membuat mata sipit ini semakin sipit saja. Ya, tahun ini seperti biasa aku, istriku, bersama kedua putri kembarku, dan papa merayakan Chinesse New Year bersama. Bagi keluarga kami, perayaan-perayaan kebudayaan Cina sangatlah penting untuk dirayakan. Kata papa sih untuk menghormati budaya para leluhur. Tak seperti biasa, tahun ini papa ingin menghabiskan malam perayaan Chinesse New Year di Surabaya saja. Aku menyanggupinya, karena pikirku perjalanan yang cukup lama juga tidak baik bagi orang paruh baya. Dan malam itu aku sekeluarga berada di Kawasan G-Walk, Citraland, Surabaya Barat.

Melihat ada sederetan kios bermain, kedua anakku meminta untuk ditemani bermain. Namun, karena kondisi badanku saat itu tidak fit aku bilang pada anakku untuk pergi bersama mamanya saja. Sedangkan aku menemani papa duduk-duduk ngobrol dengannya. “Papa pingin yang anget-anget Do”, katanya padaku. Tak jauh di sana memang ada mobil penjual sup kacang merah, bakcang, dan makanan berbau chinesse tradisional. Aku ajak papa makan di sana.

“Kok bisa ya Do sekarang mereka juga turut berjualan produk bangsa kita?”, pertanyaan itu ia lontarkan bukan dengan maksud ingin mendapatkan jawaban dariku. Aku tau dari nada suaranya, ucapannya itu hanya sebenarnya hanya suatu pernyataan yang menyindir. Meskipun begitu,  toh aku tetap menjawab pertanyaannya. “Sekarang ini sudah makin banyak masyarakat pribumi yang terbuka mata hatinya. Mereka tahu bahwa kedatangan bangsa kita bukan sebagai perusak di negeri ini. Mereka tahu bahwa sebenarnya dengan kedatangan kita juga turut membuka peluang bisnis yang besar untuk memajukan negara ini. Dan..” “Betul Do! Betul! Papa setuju sekali denganmu. Sekarang mereka tahu bahwa bangsa Cina lebih hebat dari mereka. Dan karena mereka tidak tahu bagaimana menyaingi kita, sekarang mereka memakai cara-cara berdagang kita. Sungguh tak tahu diri. Di belakang mereka hina-hina kita, namun di depan mereka dengan senyum palsu berpura-pura berdamai dengan kita, supaya dagangan mereka pada laku habis dibeli orang Cina!”, omel  papa yang penuh kebencian memotong kata-kataku tadi. Karena aku tidak cukup banyak tenaga untuk berdiskusi dengannya, aku cuma hanya bisa diam mendengarkan kekesalan papa terhadap kaum pribumi. Dan sesekali aku hanya memberikan anggukan tanda aku merespon kata-katanya.

Pagi itu, papa berangkat sendiri ke kantor. Istriku meminta papa untuk memberikan aku ijin cuti sehari karena semalam suhu badanku naik jadi 37,5 derajat. Pagi itu aku makan sarapan buatan istriku, sendiri. Dua roti dengan masing-masing isi selembar daging ham lengkap dengan telur, selada, dan bumbu pelengkapanya sudah dalam proses tercerna dalam perutku. Istirku tahu bagaimana memanjakan lidah suaminya. Hari ini aku cukup merepotkannya. Biasanya setiap pagi, aku yang mengantar anak-anak ke sekolah, namun pagi itu Adeline, yang mengantar. Setelah itu ia ia harus langsung pergi bekerja. Istriku ini berprofesi sebagai guru les musik di suatu lembaga musik yang cukup ternama di sini. Dia sosok yang cakap dalam segala hal, menurutku. Dia teman dan pasangan yang baik buatku. Dan menutku dia juga sosok ibu yang baik bagi anak-anakku serta menantu yang baik bagi papa. Papa pernah bilang begitu padaku saatku melamarnya dulu.
Aku merasa hidupku telah sempurna dengan kehadiran Adeline dalam hidupku. Namun entah mengapa aku teringat perbincanganku dengan papa semalam. Dan omongannya membuatku teringat pula dengan kejadian mengenaskan yang sebenarnya tidak mau aku ingat lagi. Jika aku mampu, aku ingin sekali membuat otakku bekerja untuk menghapus memoriku di masa kelam itu saja. Tak bisa aku hindari, satu demi satu memori itu kembali terlintas di pikiranku.

Aku ingat saat itu aku bersama papa, mama dan saudara kembar perempuanku pergi ke Jakarta untuk menemani papa berdinas di sana. Saat itu aku dan Dora baru saja menyelesaikan studi kami di bangku SMP. Aku ingat betul bulan itu. Mei 1998. Papa adalah salah satu orang penting di perusahaannya. Perusahaannya cukup memiliki nama di Indonesia, dan saat itu papa dan mama tidak terpikir apapun tentang apa yang akan terjadi di Jakarta saat itu pada kami. Karena merasa sudah berada di zona nyaman itulah kami sekeluarga tetap menghabiskan waktu di mall-mall di saat banyak orang-orang Tionghoa lain mengungsi ke luar negeri karena takut akan terjadi kerusuhan.

Tak diduga terjadilah betul hari itu. Kerusuhan terjadi. Mall-mall dibakar habis, toko-toko orang Tionghoa habis dijarah, rumah-rumah mereka habis dibakar. Dan hal yang paling menakutkanpun terjadi, aku saat itu yang masih berbadan kecil tidak bisa berbuat apa-apa saat mama dan Dora diperkosa di hadapanku dan papa di kamar hotel. Dengan mata kepalaku sendiri aku melihat papa dipukuli dan dilukai dengan pisau di lengan kanannya. Darah segar mengalir di tangannya. Badan papa penuh dengan memar dan luka-luka di sekujur tubuhnya. Aku tahu karena kami saat itu semua ditelanjangi. Kami dipermalukan. Aku juga mendapat pukulan yang cukup keras di kepala. Pukulan itu membuatku cukup setengah teler tak berdaya dan hanya bisa melihat dengan mata lebam bekas hantaman salah satu laki-laki pribumi. Kelanjutan cerita detilnya aku tak tau karena tak lama setelah itu aku jatuh pingsan.

Saat bangun, aku sudah berada di kamar rumah sakit ditemani papa yang dengan penuh balutan perban di badannya. Melihatku bangun, papa langsung mendekapku dengan erat dan bilang bahwa ia sangat khawatir. Ia takut kehilangan aku juga. Ia juga berkali-kali mengatakan bahwa ia mencintaiku. Tulang-tulangku terasa mau patah saat lengannya yang kuat itu merangkulku. Kelihatannya luka yang aku dapat saat kejadian itu tak hanya lebam di mata dan memar di kepala saja. Aku tak tahu dan tak mau mengingatnya. Tak lama setelah itu, papa membawa berita duka dipenuhi dendam, di mana papa berkata bahwa mama dan Dora tewas di malam kelabu itu. Papa juga bilang jika ternyata aku sudah pingsan selama 2 minggu. Aku cuma bisa tersenyum pada papa dan mengatakan aku baik-baik saja. Namun dalam hati, sama seperti papa aku menaruh dendam dan luka yang cukup mendalam terhadap kaum pribumi khususnya kelima pria bengis yang tidak aku kenal itu. Oh lebih tepat mereka disebut binatang saja. Bagiku mereka sungguh tak lebih dari sekedar binatang yang memang tak memiliki moral. Binatang-binatang itu merenggut sosok wanita dalam keluarga kecil kami.

Mengingat hal-hal menyakitkan itu membuatku cukup lelah. Bagiku sekarang sudah berbeda. Aku sadar kala itu mungkin ada oknum-oknum tertentu yang memiliki kuasa benci pada orang-orang Tionghoa. Termasuk kami orang tionghoa turunan. Di kala itu, bangsa kami sangatlah pintar berdagang dan hal itu cukup membuat beberapa orang pribumi ketakutan sektor ekonominya akan dijajah oleh kami para pendatang. Padahal kedatangan Bangsa Cina di masa itu sungguh hanya dengan niatan berdagang. Dan mungkin rakyat-rakyat yang kurang mampu saat itu dipergunakan oleh pemerintah untuk menyingkirkan kami dari ibu Pertiwi ini.
Aku pernah baca, saat orde baru banyak sekali orang-orang Tionghoa yang turut berjasa dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sebut saja Liem Soe Liong yang dekat dengan Soekarno, yang pernah menyembunyikan mertuanya pada saat itu yang merupakan buronan. Ada juga orang Tionghoa yang turut memerintah di Yogyakarta. Mataku semakin berat, pikiranku semakin tak bisa diajak kompromi, kepalaku pusing setengah mati mengingat-ingat sejarah. Yang penting bagiku sekarang, semua sudah berbeda. Masyarakat pribumi sudah makin banyak yang mengakui keberadaan kami sebagai WNI. Aku pribadi sangat bangga menjadi WNI. Dan aku senang terlahir menjadi turunan Tionghoa. Namun siapa yang sangka? Kelahiran yang tidak bisa kita request itu dinilai sebagai suatu kesialan bagi beberapa orang Tionghoa turunan yang tinggal di Indonesia yang turut menjadi korban Mei ’98. Tak sadar sudah berjelajah pikiran ke mana saja, akupun tertidur.

“Do, bangun Do, papa mau ngomong penting.”, ucap papa dengan nada setengah berteriak. Aku bangun dalam keadaan setengah kacau. Badanku terasa mendidih sampai ke ubun-ubun. Pipiku merah saat kulihat ke kaca sepintas. Lagi-lagi aku dikejutkan oleh perkataan papa . Papa bilang kalau papa melihat salah satu sosok pelaku pemerkosaan mama dan Dora! Astaga! Sungguh aku tak menyangka, serentetan memori yang tak sengaja teringat kembali kini muncul di hadapan kami, aku dan papa. Papa dengan sedikit bingung dan tergesa-gesa mengucapkan kalimat-kalimat dalam bahasa mandarin yang aku tak cukup mengerti saat itu. Kusuruh papa duduk dahulu, istrikupun turut duduk membawa tiga cangkir teh untuk kami bertiga. Aku minta papa mengulangi perkataanya dengan Bahasa Indonesia dengan lebih tenang. Intinya, papa bilang jika papa baru saja menemukan foto sosok salah satu pelaku pemerkosa malam itu di rumah karyawan kepercayaan perusaahaan kami. Pelaku itu yang turut melukai lengan papa yang meninggalkan bekas yang dalam. Jadi jelas, papa tidak akan mungkin lupa dengan wajah si pelaku. Tanpa ragu, detik itu juga, aku mengajak papa pergi bersama ke rumah Antok, karyawan kami. Aku bertekad akan menelusuri  kenangan kelam yang terus saja menghantui kami. Aku ingin merdeka dari tekanan batin itu.

Sekian lama ...

Yak!

Akhirnya benar-benar kubuka diary canggihku ini..

Sekian lama berkutat dengan dunia perkuliahan dan kehidupan sehari-hari yang cukup menyibukkan,
tibalah aku di liburan akhir semester 3.

Entah harus senang atau sedih.
Awalnya, kupikir liburan kali ini aku bakalan cukup sibuk dengan sederetan rencana yang sudah aku persiapkan untuk mengusir kebosanan yang bakal aku temui selama liburan.
Ternyata, lagi2 perhitunganku meleset!

Tahun ini, awan kelabu tetap saja menyelimuti keluargaku.

Korbannya kali ini adalah aku.

Ya, aku kehilangan "teman" galauku saat menghadiri acara natal di gerejaku.
Sekali lagi, entah aku harus senang atau sedih menghadapinya.

Hmmm aku kira cukup sekian dulu cerita sedihku.
Sebentar lagi, aku ingin membagikan salah satu karya tulisku yang aku buat saat ujian akhir semester untuk mata kuliah Bahasa Indonesia.
Mungkin masih banyak salah ketik maupun salah kata, tapi semoga tulisanku menarik :)

Selamat Natal kawan!
Semoga sukacita dan kasih Natal ada dalam dirimu sekalian :D

Selasa, 25 Oktober 2011

Maksa...

Jam udah nunjukin angka 2:19 di laptop.
Tapi beneran deh !
Ni tangan gatel pingin share apa yang ada di otak nih di sini... !!!


haaaaa...


Saking stress jam segini ga ada yang diajakin ngomong lagi *emang biasanya siapa?*
hahahahaa .....


Ni mumpung inget deh, benernya tadi pagi tuh bangun aku udah mepet banget.
Jadi aku masuk ke kamar mandi tu dalam keadangan setengah teler..
NAH!!!
Aku shock banget pertama kali liat gayung di kamar mandi tuh ada 2!!!
Otomatis yang pertama kali muncul di otak tuh "Wah gile! Ni gayung ameoba apa bisa membelah diri begitu!"
*soalnya sama persis deh itu gayung*
Niatnya mau tanya orang rumah tapi ntar dikira gila *emang deh rasanya* hahahhaa


Sekian dulu deh, yang keinget itu doank. ni otak dah overload rasanya kalo dipaksa suruh mikir lagi :/
Sekedar info, kata temenku, otak aku ni diperkirakan udah karatan saking terlalu seringnya dipake buat mikir hal2 dari yang masalah politik negara sampai masalah "kenapa upil rasanya asin?" *nah lo! ketauan pernah ngicip* - kabur sambil masukin muka ke dalam ember....

Senin, 24 Oktober 2011

Awal dari segalanya ... (Tersesat part. 1)

Astagaa!

Udah pamit, tapi ternyata ada yang kelupaan!! x_x

Mungkin yang baca *kalo ada sih* hehehe.., ada yang bertanya-tanya kenapa kasi judul blog dengan nama...

"Catatan Kecil Orang Tersesat"

Nah ternyata usut punya usut otak saya menjawab... *mikir lagi alesannya karena lupa* :/

..
..
..

hmm.. oh yaaa!! *untung deh inget* *kringet dingin*


Alasan aku ngambil keempat kata itu karena aku ga mau kalo pake kata diary yang kesannya girly banget gitu.. *ihh risih deh eike bokk - ala banci bunderan tol waru* *kayak pernah ke sana aja* wkwkkwkw.
Berdasarkan alasan sederhana itulah aku pake kata catatan kecil untuk blog ini :D


dan...


Kenapa dengan orang tersesat?? Karena aku merasa selama manusia berada di dalam dunia, dia akan selalu tersesat/disesatkan oleh dunia ini. *dalem yahhh.. padahal benernya juga ga berapa ngerti ngetik apa barusan* hahahaha..

Yaa tapi aku percaya aja deh sama para pembaca yang punya intelektual tinggi.. Saya tantang anda ! *devil's laugh*

O ya, sebelum aku semakin tersesat, aku mau kenalin diri aku dulu deh :D *di mana2, harusnya ngenalin diri tuh di awal2 penulisan* :/

Nah . Namaku Chelsea Amanda Alim.
Umurku sekarang ini 19 tahun 23 hari dan sekitar 3,5 jam . xD
Dan sebelum pembaca *pede lagi!* semakin tersesat, aku ingetin kalo aku nih cewek . :)

Dan *lagi2 dan* tanda bintang (*) tuh maksudnya saya nih penggemarnya SM*SH. *jeng jeng2 jeng jeng2 - sounding masuknya lagu I heart You* wakakakakak ga deh ding..

Maksud tanda bintang tuh suara otak aku. .. *beda yah sama suara hati, masa nulis beginian pake hati*
ahhahahaa.

Ya udah deh, sekali lagi aku mau pamit undur diri dari layar laptop anda *serem amat, bingung mau pake istilah apa sih :(*

NITE *again* ^^